Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 November 2017

Wafatnya Putra Pengarang Kitab Sirojut tholibin Dinaungi Awan Cincin




KH Abdul Malik bin Ihsan (68) Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan Jampes Gampengrejo Kabupaten Kediri, Selasa pagi (7/11) meninggal dunia setelah dibawa ke RS Bhyangkara Kediri. Beliau merupakan putra pengarang Kitab ‘Taswauf” Sirojut Tholibin sebuah syarah atau komentar dari Kitab Minhajul ‘Abiidin karya Imam Al-Ghozali kitab yang cukup terkenal dan menjadi literatur perguruan tingggi seantero jagad. Prosesi pemakaman beliau digemparkan dengan munculnya awan hitam berbentuk cincin yang dikelilingi pelangi menutupi matahari saat prosesi pemakaman sekitar pukul 11.35.
Continue Reading...

Senin, 29 Mei 2017

Karya Syaikh Ihsan

Pada tahun 1930, beliau menulis sebuah kitab dibidang ilmu falak (astronomi) yang diberi judul Tashrih al Ibarat syarah atau penjabaran dari kitab karangan KH Ahmad Dahlan Semarang yang berjudul Natijat al Miqat. Kitab Tashrih al Ibarat ini pernah diterbitkan oleh sebuah penerbit di kota Kudus dengan isi setebal 48 halaman.
Kemudian pada tahun 1932, diwaktu beliau dalam keadaan menduda setelah perceraian dari pernikahannya yang keempat, beliau menulis sebuah kitab dibidang ilmu tasawwuf yang kemudian membuat beliau menjadi terkenal itu yaitu kitab Siraj Al Thalibin syarh Minhaj Al Abidin. Kitab ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1936 atas usaha Salim Nabhan (penerbit An Nabhaniyah, Surabaya) oleh penerbit besar di Kairo Mesir Musthafa al Babi al Halabi.
Selanjutnya pada tahun 1940, beliau menulis lagi sebuah kitab dalam bidang tashawwuf yang diberi judul Manahij Al Imdad syarh kitab Irsyad Al Ibad karya Syeikh Zainuddin Al Malibari (982H.) kitab Manahij Al Imdad ini terdiri dari dua jilid, masing-masing berisi 527 halaman dan 561 halama.
Selain yang telah di sebutkan di atas, masih ada lagi tulisan-tulisan beliau lainnya, diantaranya ialah sebuah kitab yand diberi judul Irsyad Al Ikhwan fi as Syurbi al Qahwati wa al Dukhon, sebuah kitab yang khusus membicarakan tentang minum kopi dan merokok ditinjau dari segi hukum islam.
Continue Reading...

Ketawadhu'an Syekh Ihsan

Suatu saat beliau (Mbah Moen) di ajak abahnya (Mbah zubair) silaturrahmi ke jampes untuk tabarrukan & mengenal lebih dekat sosok mbah Ihsan, melihat kitab Sirojuttolibin karangan beliau yg begitu mendunia & begitu dikagumi banyak ulama2 nusantara hingga manca negara , tentulah beliau jg seorang kyai yg sangat mahir bebahasa arab (berdialog arab), karena itu tanpa sungkan2 mbah Zubair langsung memulai perbincangan dg berbahasa arab, tetapi mbah Ihsan selalu menyahutinya dg bahasa jawa Nggeh, nggeh yai (ya, ya yai), setelah lewat beberapa pembicaraan barulah mbah Ihsan berkata :" Ngapunten yai, ngagem boso jawi mawon, kulo niku saget maham kitab2, nanging kulo mboten saget ngendikan boso arab". (Maaf yai, pakai bahasa jawa saja dialognya, saya itu bisa memaham kitab2 berbahasa arab, tetapi saya tidak mahir berbahasa arab).
Unik memang pengakuan beliau itu, sesuatu yg tidak lazim untuk seorang ulama yg punya karya sekaliber karya beliau, walau tidak menutup kemungkinan bahwa pengakuan itu semata hanyalah ungkapan tawadlu' beliau.
Konon, Kyai Jazuli Ploso pun sempat keqi & heran melihat apa yg ada pada diri mbah Ihsan ini, saat beliau berdua sama2 mbalah kitab (meberikan pengajian dg membacakan kitab tertentu) di masjidil haram. Kyai Jazuli yg disamping dikenal akan keluasan ilmunya, jg sangat fasih lisannya, uraian2 beliau yg luas & menarik serta mudah dipahami membuat orang tidak pernah bosan mendengarkan pengajiannya,tetapi meski demikian, yg mengikuti pengajian beliau selalu tidak sebanyak yg mengikuti pengajian mbah Ihsan, padahal mbah Ihsan hanya membacanya saja dg ma'na ala jawa & jarang sekali menguraikan atau menjabarkannya.

Continue Reading...

Sejarah Istighotsah Yamisda Al-Ihsan

Berawal dari cletukan KH. Abd Malik Ihsan jampes selaku shohibul ijazah Istighotsah “YAMISDA” dalam suasana berkumpul dengan putra-putra beliau,” Aku akan membuat kumpulan wirid ya ?” yai Malik dawuh kepada putra-putranya..” Silahkan Pi..” jawab putra beliau,akhirya yai Malik menyuruh salah satu santri beliu yang ada di farum tersebut untuk menulis wirid apa yang akan di baca. Mulai dari hadroh fatikhah sampai pada tahlil Nabiyulloh Khidir di teruskan bacaan dzikir istighotsah ” YAMISDA “.

Pada waktu akhir bacaan istighotsah yai Malik bertanya kepada hadirin,” Enaknya akhir isthigotsah yang di baca apa,sholawat atau kalimah tahlil ” Lailaihaillalloh “?”,salah satu putra beliau, KH. Ujang Ihsan menjawab ” Tahlil saja Pi,bisa di ” lagu”kan membacanya”, akhirnya usul Gus Ujang di setujui oleh semua dan di putuskanlah bacaan istighhotsah di akhiri dengan kalimah tahlil” Lailahaillalloh 333 x ” ” sholawat 3x ” dan do’a.

Mengenai bilangan kalimah tahlil yang di baca,KH. Ujang Ihsan berkata,” sebenarnya banyaknya yang di baca 6000x,tapi di pertimbangkan kepada para jama’ah akhirnya di putuskan menjadi 313x kalau di buat jama’ah orang banyak,kalau di buat wirid sendirian cukup 33x dan bilangannya kalimah tahlil ” Lailahaillalloh ” masih menurut KH. Ujang Ihsan adalah,33x / 111x / 333x / 777x/1000x / 6000x.

Tercetusnya ” YAMISDA ” sebagai nama istighotsah yang di pilih, kata Gus Ujang ” Pada waktu setelah penulisan kumpulan wirid yai Malik, yai Malik berkata ” Enaknya wirid ini di namakan apa? “..para hadirin semua belum bisa membuat nama yang sesuai dengan kumpulan wirid yai Malik tersebut, Akhirnya yai Malik besoknya ziaroh ke makam sunan Ampel surabaya. Sekembalinya yai Malik dari Ampel di putuskan nama untuk wirid tersebut kumpulan dari nama-nama leluhur PONPES. AL IHSAN JAMPES KEDIRI, seperti Syech Ihsan,Syech Dahlan,Nyai Istianah dll. Akhirnya di putuskanlah ” YAMISDA ” sebagai nama kumpulan wirid KH. Abdul Mlaik Ihsan jampes. YA = KH. Yahudho ( tokoh ulama’ karismatik daerah pacitan ) M = KH. Mesir Trenggalek, I = Nyai Isti’anah jampes kediri, S = K. Sholeh ( ujang sholeh ), D = KH. Moch Dahlan ( abah Syech Ihsan jampes pengarang kitab Sirojut Tholibin ), A = Syech Ihsan Jampes kediri.

Kata “istighotsah” استغاثة berasal dari “al-ghouts”الغوث yang berarti pertolongan. Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) “istaf’ala” استفعل atau “istif’al” menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. jadi ISTIGHOTSAH YAMISDA adalah kumpulan bacaan dzikir / wirid untuk memohon pertolongan kepada Alloh Azza wa Jalla agar apa yang menjadi hajat kita di kabulkan oleh Alloh SWT.


Continue Reading...

Biografi Syaikh Ihsan Jampes






Syaikh Ihsan lahir pada tahun 1901 M dengan nama asli Bakri dari pasangan KH. Dahlan dan Ny. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syaikh Ihsan adalah seorang kiai yang tersohor pada masanya; dia pula yang merintis pendirian Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M.Tidak banyak yang dapat diuraikan tentang nasab Syaikh Ihsan dari jalur ibu. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Ny. Artimah, putri dari KH. Sholeh Banjarmelati-Kediri. Sementara itu, dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra KH. Saleh, seorang kyai yang berasal dari Bogor Jawa Barat, yang leluhurnya masih mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung jati (Syayrif Hidayatullah) Cirebon.
Terkait dengan nasab, yang tidak dapat diabaikan adalah nenek Syaikh Ihsan (ibu KH. Dahlan) yang bernama Ny. Isti’anah. Selain Ny. Isti’anah ini memiliki andil besar dalam membentuk karakter Syaikh Ihsan, pada diri Ny. Isti’anah ini pula mengalir darah para kyai besar. Ny. Isti’anah adalah putrid dari KH. Mesir putra K. Yahuda, seorang ulama sakti mandraguna dari Lorog Pacitan, yang jika urutan nasabnya diteruskan akan sampai pada Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Itu dari jalur ayah. Adapun dari jalur ibu, Ny. Isti’anah adalah cicit dari Syaikh Hasan Besari, seorang tokoh masyhur dari Tegalsari Ponorogo yang masih keturunan Sunan Ampel Surabaya.
Pertumbuhan dan Rihlah Ilmiah
Syaikh Ihsan kecil, atau sebut saja Bakri kecil, masih berusia 6 tahun ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraian itu, Bakri kecil tinggal di lingkungan pesantren bersama sang ayah, KH. Dahlan, dan diasuh oleh neneknya, Ny. Isti’anah.
Semasa kecil, Bakri telah memiliki kecerdasan pikiran dan terkenal memiliki daya ingat yang kuat. Ia juga tekun membaca buku, baik yang berupa kitab-kitab agama maupun bidang lain, termasuk majalah dan Koran. Selain itu, satu hal yang nyeleneh adalah kesukaannya menonton wayang. Di mana pun pertunjukan wayang digelar, Bakri kecil akan mendatanginya; tak peduli apakah seorang dalang sudah mahir ataukah pemula. Karena kecerdasan dan penalarannya yang kuat, ia menjadi paham benar berbagai karakter dan cerita pewayangan. Bahkan, ia pernah menegur dan berdebat dengan seorang dalang yang pertujukan wayangnya melenceng dari pakem.
Kebiasan Bakri kecil yang membuat risau seluruh keluarga adalah kesukaannya berjudi. Meski judi yang dilakukan Bakri bukan sembarang judi, dalam arti Bakri berjudi hanya untuk membuat kapok para penjudi dan Bandar judi, tetap saja keluarganya merasa bahwa perbuatan Bakri tersebut telah mencoreng nama baik keluarga. Adalah Ny. Isti’anah yang merasa sangat prihatin dengan tingkah polah Bakri, suatu hari mengajaknya berziarah ke makam para leluhur, khususnya makam K. Yahuda di Lorog Pacitan. Di makam K. Yahuda inilah Ny. Isti’anah mencurahkan segala rasa khawatir dan prihatinnya atas kebandelan cucunya itu.
Konon, beberapa hari setelah itu, Bakri kecil bermimpi didatangi oleh K. Yahuda. Dalam mimpinya, K. Yahuda meminta Bakri untuk menghentikan kebiasaan berjudi. Akan tetapi, Karena Bakri tetap ngeyel, K. Yahuda pun bersikap tegas. Ia mengambil batu besar dan memukulnya ke kepala Bakri hingga hancur berantakan. Mimpi inilah yang kemudian menyentak kesadaran Bakri; sejak saat itu ia lebih kerap menyendiri, merenung makna keberadaannya di dunia fana.
Setelah itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia keluar dari pesantren ayahnya untuk melalang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Beberapa pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri diantaranya: Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang,Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.
Yang unik dari rihlah ‘ilmiah yang dilakukan Bakri adalah bahwa ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik dari KH. Kholil Bangkalan, ia hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar falak kepada KH. Dahlan Semarang ia hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Peantren Jamseran ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.
Satu lagi yang unik, di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak Kyai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra Kyai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah Gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain.
Mengasuh Pesantren dan Masyarakat
Pada 1926, Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, namanya diganti menjadi Ihsan. Dua tahun kemudian, Ihsan berduka karena sang ayah, KH. Dahlan, dipanggil oleh Allah SWT. Semenjak itu, kepemimpinan PP Jampes dipercayakan kepada adik KH. Dahlan, yakni KH. Kholil (nama kecilnya Muharror). Akan tetapi, dia mengasuh Pesantren Jampes hanya selama empat tahun. Pada 1932, dengan suka rela kepemimpinan Pesantren Jampes diserahkan kepada Ihsan. Sejak saat itulah Ihsan terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes.
Ada banyak perkembangan signifikan di Pesantren Jampes setelah Syaikh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga PP Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942.
Sebagai seorang Kyai, Syaikh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didedikasikan untuk santri, ternyata Syaikh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syaikh Ihsan dikenal memiliki lmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syaikh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah yang meminta bantuannya.
Pada masa revolusi fisik 1945, Syaikh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. PP Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda; di Pesantren Jampes ini, mereka meminta doa restu Syaikh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syaikh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih PP Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syaikh Ihsan membuka gerbang pesantrenya lebar-lebar.
Wafat dan Warisan Syaikh Ihsan
Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. Dia meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam suthur (kertas: karya-karyanya yang ‘abadi’) maupun dalam shudur (memori: murid-muridnya).
Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: (1) Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban; (2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar; (3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap; (4) KH. Busyairi di Sampang Madura; (5) K. Hambili di Plumbon Cirebon; (6) K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.
Sumbangan Syaikh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya masterpiecenya, siraj ath-Thalibin, terutama ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab- al-Halab. Sayangnya, di antara kitab-kitab karangan Syaikh Ihsan, baru siraj ath-Thalibinlah yang mudah didapat. Itu pun baru dapat dikonsumsi oleh masyarakat pesantren sebab belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Berikut daftar karya Syaikh Ihsan Jampes:
  1. Tashrih al-Ibarat (syarah dari kitab Natijat al-Miqat karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), terbit pada 1930 setebal 48 halaman. Buku ini mengulas ilmu falak (astronomi).
  2. Siraj ath-Thalibin (syarah dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali), terbit pada 1932 setebal ± 800 halaman. Buku ini mengulas tasawuf.
  3. Manahij al-Imdad (syarah dari kitab Irsyad al-‘Ibad karya Syaikh Zainudin al-Malibari), terbit pada 1940 setebal ± 1088 halaman, mengulas tasawuf.
  4. Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan (adaptasi puitik [plus syarah] dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), t.t., tebal ± 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hokum merokok dan minum kopi.

Continue Reading...

Social Share Icons

Cari di blog ini ??

Followers

Blogroll